Hujan ini layak ditangisi
Datang tiba-tiba, berhenti semaunya
Aku sedang menikmatimu disini, dekat lampu taman yang menyala dalam rinai
Duh, Desember..
Hujan ini layak ditangisi
Datang tiba-tiba, berhenti semaunya
Aku sedang menikmatimu disini, dekat lampu taman yang menyala dalam rinai
Duh, Desember..
![]() |
| Doc Pribadi |
Kau adalah bentang yang kutanam,
Cakramu menyorot setiap garam di lautan,
Buih.. adalah apa yang ia tebar,
Timbul tenggelam, terkadang juga hilang,
Laut biru dan langit yang juga biru,
Kemudian saling mencari titik temu,
Akankah?
Tanyakan pada waktu, katamu,
Tidakkah kau takut akan Si Waktu?
Dia telah menemui kala itu,
Kali ini bertemu lagi,
Dalam sunyi dan sisa-sisa letih,
Katakan selamat datang pada ragu,
Biarkan ia menubuh, menyatu dalam dirimu,
Biarkan ia membimbingmu dalam petang,
Karena sebaik-baik tersesat adalah pulang,
Mari kuantarkan..
@byazizah
![]() |
| Doc Pribadi |
Keramaian membuat aku bertanya
Tentang duduk bersama dengan orange juice di meja
Saus buatan, air conditioner yang menerpa kulit-kulit penuh
peluh dan lelah
Ada yang duduk bersama
Ada yang duduk dengan hampa
Ada juga tentang roti isi yang dibalut harga pajak yang
tinggi
Tentang irisan panjang kentang-kentang yang ditanam penduduk
lokal
Aku bertanya
Sedang apakah mereka?
Sedang menjadi apakah aku kini?
Berbalut sendiri bersama keramaian yang tak pasti
Berbicara tentang kerja
Tentang lelah, dan cita-cita
Aku seperti tersadar
Bahwa kereta selalu berjalan bukan tanpa alasan
Ia mengantar
Ia menjemput
Ia berjalan
Aku seperti tersadar
Bahwa keramaian selalu tercipta dengan banyak cobaan
Kebisingam yang sunyi
Keramaian yang hampa
Adalah apa yang harus aku jalani kini
Bahwa ketika orange juice mulai berembun
Ketika saus mulai dingin
Ketika kentang mulai berubah rasa
Aku harus pindah
Untuk menaiki kereta yang membawaku pulang ke rumah
@byazizah
![]() |
| Doc Pribadi |
Ada banyak..
Hal yang..
Ingin
aku..
Utaran..
Namun aku putuskan..
Bercerita kepada Tuhan..
Karena mungkin..
Tuhan lebih mengerti..
Bagaimana semogaku..
Berjalan nanti..
(2)
Aku pernah berpikir seperti ini, Jika
aku lebih dahulu menemuimu, mungkin sekarang aku tak bisa bersamamu. Apakah
kamu begitu?
(3)
Tenanglah,
Aku hanya sedang bercengkrama dengan
alam
Mencoba menerka kapan badai mengamuk itu
‘kan reda,
Mencoba menduga kapan awan itu berhenti
murka,
Mencoba bertanya benarkah kiranya indahmu
itu hanya di mata?
@byazizah